KUMPULAN DOA-DOA
1 Do'a Pemimpin Yang Adil, Satu Dari Do'a Mustajab 254
2 Manajemen Do'a Untuk Harapan Kuatkan Hidup 637
3 Bila Do'a Tak Langsung Dikabulkan 514
4 Di Balik Mustajabnya Do'a Dzun Nuun, Nabi Yunus 472
5 Penghulu Bacaan Istighfar 431
6 Kiat-Kiat Berburu Do'a Mustajab 485
7 Kemungkinan Terkabulnya Do'a 432
8 Do'a Keluar Rumah Agar Dijauhi Setan 841
9 Do'a Tuntunan Rasulullah Ketika Serta Saat Mendengar Bersin 418
10 Do'a Para Salaf Ketika Ramadhan Penuh Barokah Berakhir 299
11 Mengangkat Kedua Tangan Untuk Berdo’a Setelah Sholat Rawatib 761
12 Do'a Malam Lailatul Qadar Sesuai Tuntunan Rasulullah SAW 885
13 Do'a Musafir, Satu Dari Do'a Mustajab 673
14 Hukum Do'a Qunut Witir 1007
15 Do'a Agar Diberi Kemudahan Segala Urusan 1773
16 Do'a Buka Puasa Yang Disarankan 1738
17 Bolehkah Berdo'a Dan Sholat Dengan Bahasa Non Arab? 1108
18 Do'a Terbaik Sesuai Ajaran Nabi 1816
19 Dahsyatnya Mendo'akan Saudara Saat Dia Tidak Mengetahuinya 1015
20 Saat-Saat Mustajab Untuk Berdo'a 1606
21 Cukupkah Hanya Dengan "Bismillah" Sebelum Makan? 708
22 Do'a Mohon Perlindungan Dari Keburukan Miskin Dan Kaya 893
23 Bolehkah Membaca Allahumma Baarik Lanaa Fii Rojab...? 617
24 Bacaan Dari Al Qur'an Ketika Sujud Yang Diperbolehkan 983
25 Penempatan Berdo'a Dalam Sholat Yang Dianjurkan 874
26 Do'a Agar Dianugerahi Akhlak Mulia Dan Dilindungi Dari Nafsu 1343
27 Do'a Yang Tak Pernah Bosan Dilakukan Oleh Rasulullah 2180
28 Do'a Sesudah Sholat Sesuai Contoh Nabi SAW 4843
29 Do'a Minta Keturunan Sholeh 2037
30 Do'a Berlindung Dari Penyakit Dan Hilangnya Nikmat 1193
31 Dzikir Yang Dianjurkan Bagi Para Muslim Dan Muslimah 2117
32 DOA SETELAH TASYAHUD AKHIR SEBELUM SALAM 3216
33 Do'a Mohon Perlindungan Dari Sifat Malas Dan Rasa Takut 2054
34 Do'a Dan Surat Bacaan Sholat Dhuha 14262
35 Do'a Serta Harapan Di Balik Nama Bayi 1817
36 Do’a Minta Ampunan Versi Abu Bakr 1408
37 Ingin Dapat Wanita Sholihah, Gunakan Do'a Ini 2394
38 Do'a Agar Diteguhkan Hati Dalam Ketaatan 1798
39 Do'a Untuk Memperbaiki Urusan Agama Dan Dunia 1421
40 Bacaan Ketika Dengar Iqomah 1125
41 Do'a Minta Kesehatan Dan Kelapangan Rizki 2774
42 Do'a Mohon Ketakwaan Dan Sifat Qona'ah 1258
43 Dosa Kecil Sedikit-Sedikit, Lama-Lama Jadi "Bukit" 1080
44 MEMBACA SALAWAT NABI SHALLALLAHU'ALAIHI WASALLAM SETELAH TASYAHUD 2192
45 Berdoa Dengan Mengangkat Tangan 2860
46 Kumpulan Do'a Dalam Al Qur'an Dan Hadits 5863
47 Doa Senjata Pamungkas Orang Yang Beriman 2983
48 DOA KETIKA MEMEJAMKAN MATA MAYAT 2836
49 MENGAJARI ORANG YANG AKAN MENINGGAL DUNIA 1962
50 KEUTAMAAN BERKUNJUNG KEPADA ORANG SAKIT 1925
51 DOA PERLINDUNGAN KEPADA ANAK 2672
52 UCAPAN SELAMAT BAGI ORANG YANG DIKARUNIAI ANAK DAN BALASANNYA 1491
53 APABILA TERTIMPA SESUATU YANG TIDAK DISENANGI 1548
54 DOA UNTUK MENGUSIR SETAN 4674
55 APA YANG PERLU DILAKUKAN BAGI ORANG YANG BERDOSA 1353
56 DOA ORANG YANG MENGALAMI KESULITAN 2788
57 DOA MENGHILANGKAN GANGGUAN SETAN DALAM SHALAT ATAU MEMBACA AL- QUR’AN 2257
58 DOA AGAR BISA MELUNASI UTANG 3448
59 BACAAN BAGI ORANG YANG RAGU DALAM BERIMAN 1243
60 DOA TERHADAP MUSUH 1283
61 DOA ORANG YANG TAKUT KEZHALIMAN PENGUASA & DOA BERTEMU DENGAN MUSUH DAN PENGUASA 1603
62 DOA PENAWAR HATI YANG DUKA & KESEDIHAN YANG MENDALAM 5328
63 DOA QUNUT WITIR & BACAAN SETELAH SALAM SHALAT WITIR 16391
64 DOA APABILA MERASA TAKUT & DOA APABILA MEMBALIKKAN TUBUH KETIKA TIDUR MALAM 1260
65 BACAAN SEBELUM TIDUR 2447
66 BACAAN DI WAKTU PAGI DAN SORE 1662
67 DOA SHALAT ISTIKHARAH 1824
68 BACAAN SETELAH SALAM 1586
69 TASYAHUD 894
70 DOA SUJUD TILAWAH 1465
71 DOA DUDUK ANTARA DUA SUJUD 2765
72 Do’a Ulama Tidak Dijawab Allah? 1036
73 DOA BANGUN DARI RUKU’ (I'TIDAL) 1707
74 DOA RUKU’ 940
75 DOA ISTIFTAH 1061
76 BACAAN KETIKA MENDENGARKAN ADZAN 1340
77 KEUTAMAAN BERDZIKIR 1116
78 DOA PERGI KE MASJID 1415
79 BACAAN KETIKA KELUAR DARI RUMAH 960
80 BACAAN SEBELUM WUDHU 3385
81 DOA MASUK WC 1390
82 DOA KETIKA MENGENAKAN PAKAIAN 742
83 BACAAN KETIKA BANGUN DARI TIDUR 864
84 DO'A IBU UNTUK ANAK 5284
85 DOA RASULULLAH S.A.W.
Rabu, 08 Desember 2010
MENGAPA DOA KITA LAMBAT DI QABUL
MENGAPA DOA KITA LAMBAT DI QABUL
Pertama: Do’a adalah ibadah dan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Do’a adalah ibadah.” (HR. Abu Daud no. 1479, At Tirmidzi no. 2969, Ibnu Majah no. 3828 dan Ahmad 4/267; dari An Nu’man bin Basyir)
Kedua: Do’a adalah sebab untuk mencegah bala’ bencana.
Ketiga: Do’a itu amat bermanfaat dengan izin Allah. Manfaat do’a ada dalam tiga keadaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut,
« ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa'id. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid)
Keempat: Do’a adalah sebab kuat dan semakin mendapatkan pertolongan menghadapi musuh.
Kelima: Do’a merupakan bukti benarnya iman dan pengenalan seseorang pada Allah baik dalam rububiyah, uluhiyah maupun nama dan sifat-Nya. Do’a seorang manusia kepada Rabbnya menunjukkan bahwa ia yakini Allah itu ada dan Allah itu Maha Ghoni (Maha Mencukupi), Maha Melihat, Maha Mulia, Maha Pengasih, Maha Mampu, Rabb yang berhak diibadahi semata tidak pada selainnya.
Keenam: Do’a menunjukkan bukti benarnya tawakkal seseorang kepada Allah Ta’ala. Karena seorang yang berdo’a ketika berdo’a, ia berarti meminta tolong pada Allah. Ia pun berarti menyerahkan urusannya kepada Allah semata tidak pada selain-Nya.
Ketujuh: Do’a adalah sebagai peredam murka Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang tidak meminta pada Allah, maka Allah akan murka padanya.” (HR. Tirmidzi no. 3373. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Semoga faedah ilmu ini memberikan kita motivasi untuk terus berdo’a dan banyak memohon pada Allah. Setiap do’a pasti bermanfaat. Setiap do’a pasti akan diberi yang terbaik oleh Allah menurut-Nya. Jadi jangan putus untuk terus memohon.
Semoga sajian singkat di malam ini bermanfaat.
Pertama: Do’a adalah ibadah dan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Do’a adalah ibadah.” (HR. Abu Daud no. 1479, At Tirmidzi no. 2969, Ibnu Majah no. 3828 dan Ahmad 4/267; dari An Nu’man bin Basyir)
Kedua: Do’a adalah sebab untuk mencegah bala’ bencana.
Ketiga: Do’a itu amat bermanfaat dengan izin Allah. Manfaat do’a ada dalam tiga keadaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut,
« ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ « اللَّهُ أَكْثَرُ »
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa'id. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid)
Keempat: Do’a adalah sebab kuat dan semakin mendapatkan pertolongan menghadapi musuh.
Kelima: Do’a merupakan bukti benarnya iman dan pengenalan seseorang pada Allah baik dalam rububiyah, uluhiyah maupun nama dan sifat-Nya. Do’a seorang manusia kepada Rabbnya menunjukkan bahwa ia yakini Allah itu ada dan Allah itu Maha Ghoni (Maha Mencukupi), Maha Melihat, Maha Mulia, Maha Pengasih, Maha Mampu, Rabb yang berhak diibadahi semata tidak pada selainnya.
Keenam: Do’a menunjukkan bukti benarnya tawakkal seseorang kepada Allah Ta’ala. Karena seorang yang berdo’a ketika berdo’a, ia berarti meminta tolong pada Allah. Ia pun berarti menyerahkan urusannya kepada Allah semata tidak pada selain-Nya.
Ketujuh: Do’a adalah sebagai peredam murka Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang tidak meminta pada Allah, maka Allah akan murka padanya.” (HR. Tirmidzi no. 3373. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Semoga faedah ilmu ini memberikan kita motivasi untuk terus berdo’a dan banyak memohon pada Allah. Setiap do’a pasti bermanfaat. Setiap do’a pasti akan diberi yang terbaik oleh Allah menurut-Nya. Jadi jangan putus untuk terus memohon.
Semoga sajian singkat di malam ini bermanfaat.
Sejarah Wali Walisongo
Sejarah Sembilan Wali / Walisongo
“Walisongo” berarti sembilan orang wali”
Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid
Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.
Maulana Malik Ibrahim (1)
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.n
Sunan Ampel (2)
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang)
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.
Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.n
Sunan Giri (3)
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.
Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.n
Sunan Bonang (4)
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah
yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n
Sunan Kalijaga (5)
Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.n
Sunan Gunung Jati (6)
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).
Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.n
Sunan Drajat (7)
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M
Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun
Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk.
Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.n
Sunan Kudus (8)
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n
Sunan Muria (9)
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.
Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.
Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.
“Walisongo” berarti sembilan orang wali”
Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid
Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.
Maulana Malik Ibrahim (1)
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.n
Sunan Ampel (2)
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang)
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.
Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.n
Sunan Giri (3)
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.
Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.n
Sunan Bonang (4)
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah
yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n
Sunan Kalijaga (5)
Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.n
Sunan Gunung Jati (6)
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).
Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.n
Sunan Drajat (7)
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M
Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun
Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk.
Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.n
Sunan Kudus (8)
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n
Sunan Muria (9)
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.
Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.
Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.
DOA-DOA QURROTA AYUN
DOA-DOA QURROTA AYUN
Doa Untuk Memperbaiki Keturunan
Doa Pertama
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"ROBBANA HAB LANA MIN AZWAJINA WA DZURRIYATINA QURROTA AYUN, WAJALNA LILMUTTAQINA IMAMAA." (Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa) (QS. Al Furqon:74)
Doa Kedua
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي
"ROBBI AWZINI AN ASYKURO NIMATAKALLATI AN AMTA ALAYYA. WA ALA WAALIDAYYA WA AN AMALA SHOLIHAN TARDHOH, WA ASHLIH LII FI DZURRIYATIY" (Wahai Robbku, ilhamkanlah padaku untuk bersyukur atas nikmatmu yang telah Engkau karuniakan padaku juga pada orang tuaku. Dan ilhamkanlah padaku untuk melakukan amal sholeh yang Engkau ridhoi dan perbaikilah keturunanku) (QS. Al Ahqof:15)
Semoga kita bisa mengamalkan doa yang mudah dihafalkan ini. Semoga kita tidak jemu untuk selalu memanjatkan doa kepada-Nya. Allah tidak mungkin membiarkan hamba-Nya yang menengadahkan tangan kepada-Nya, lalu dia pulang dengan tangan hampa.
Doa Untuk Memperbaiki Keturunan
Doa Pertama
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"ROBBANA HAB LANA MIN AZWAJINA WA DZURRIYATINA QURROTA AYUN, WAJALNA LILMUTTAQINA IMAMAA." (Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa) (QS. Al Furqon:74)
Doa Kedua
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي
"ROBBI AWZINI AN ASYKURO NIMATAKALLATI AN AMTA ALAYYA. WA ALA WAALIDAYYA WA AN AMALA SHOLIHAN TARDHOH, WA ASHLIH LII FI DZURRIYATIY" (Wahai Robbku, ilhamkanlah padaku untuk bersyukur atas nikmatmu yang telah Engkau karuniakan padaku juga pada orang tuaku. Dan ilhamkanlah padaku untuk melakukan amal sholeh yang Engkau ridhoi dan perbaikilah keturunanku) (QS. Al Ahqof:15)
Semoga kita bisa mengamalkan doa yang mudah dihafalkan ini. Semoga kita tidak jemu untuk selalu memanjatkan doa kepada-Nya. Allah tidak mungkin membiarkan hamba-Nya yang menengadahkan tangan kepada-Nya, lalu dia pulang dengan tangan hampa.
MENUJU RUMAH TANGGA SAKINAH
MENUJU RUMAH TANGGA SAKINAH
PDF Cetak E-mail
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum [30]: 21)
Rumah tangga sakinah, mawaddah wa rahmah adalah dambaan setiap pasangan. Namun, yang menjadi pertanyaan bagi kebanyakan pasangan pula adalah: bagaimana menggapai rumah tangga sakinah, mawaddah wa rahmah?!
Pada malam pernikahan putrinya, Umamah binti Harits yang dikenal dengan Ummu Iyas binti Auf, seorang wanita pemuka Arab, menyampaikan pesan yang sangat indah kepada putrinya.
Umamah berkata, “Putriku, sekarang engkau akan meninggalkan suasana dimana engkau dilahirkan, meninggalkan kehidupan dimana engkau dibesarkan. Sekiranya ada wanita yang tidak butuh suami karena merasa cukup dengan kedua orang tuanya, atau kedua orang tuanya membutuhkannya, engkaulah wanita yang paling tidak membutuhkan suami. Tetapi, wanita diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki diciptakan untuk wanita. Karena itu, aku wasiatkan kepadamu sepuluh hal:
• Pertama dan Kedua: patuhilah suamimu dengan penuh keridhaan; dengar dan taatilah ia dengan baik.
• Ketiga dan keempat: perhatikanlah pandangan dan penciumannya; jangan sampai pandangannya melihat sesuatu yang buruk padamu, dan jangan sampai ia mencium darimu selain bau harum.
• Kelima dan keenam : perhatikanlah waktu tidur dan makannya, karena lapar yang sangat dan kurang tidur dapat membuatnya terbakar amarah.
• Ketujuh dan kedelapan: jagalah hartanya dan peliharalah keluarganya. Menjaga harta dengan baik adalah dengan membuat anggaran secara baik, dan inti urusan keluarga adalah baik dalam mengatur.
• Kesembilan dan kesepuluh : Janganlah mendurhakai perintahnya dan jangan pula membuka rahasianya. Sebab, jika engkau mendurhakai perintahnya, engkau akan melukai hatinya, dan jika engkau membuka rahasianya, engkau tidak akan merasa aman dari pengkhianatannya.
• Selanjutnya, perhatikan baik-baik, jangan sampai engkau menampakkan kegembiraan di hadapannya ketika ia sedang bersedih, dan jangan sampai menampakkan kesedihan ketika ia bergembira.”
Demikianlah wasiat Ummu Iyas, seorang ibu yang sangat menginginkan terciptanya sakinah, mawaddah wa rahmah dalam rumah tangga putrinya, guna menggapai kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat.
Ummu iyas tahu betul bahwa kebahagiaan pasangan suami istri hanya dapat terwujud jika ada kerjasama dan saling pengertian di antara keduanya. Kebahagiaan pasangan suami istri terletak pada bagaimana pasangan itu mengelola rumah tangganya dengan baik, saling menghormati, saling memuliakan, dan tidak saling menghinakan.
PDF Cetak E-mail
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum [30]: 21)
Rumah tangga sakinah, mawaddah wa rahmah adalah dambaan setiap pasangan. Namun, yang menjadi pertanyaan bagi kebanyakan pasangan pula adalah: bagaimana menggapai rumah tangga sakinah, mawaddah wa rahmah?!
Pada malam pernikahan putrinya, Umamah binti Harits yang dikenal dengan Ummu Iyas binti Auf, seorang wanita pemuka Arab, menyampaikan pesan yang sangat indah kepada putrinya.
Umamah berkata, “Putriku, sekarang engkau akan meninggalkan suasana dimana engkau dilahirkan, meninggalkan kehidupan dimana engkau dibesarkan. Sekiranya ada wanita yang tidak butuh suami karena merasa cukup dengan kedua orang tuanya, atau kedua orang tuanya membutuhkannya, engkaulah wanita yang paling tidak membutuhkan suami. Tetapi, wanita diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki diciptakan untuk wanita. Karena itu, aku wasiatkan kepadamu sepuluh hal:
• Pertama dan Kedua: patuhilah suamimu dengan penuh keridhaan; dengar dan taatilah ia dengan baik.
• Ketiga dan keempat: perhatikanlah pandangan dan penciumannya; jangan sampai pandangannya melihat sesuatu yang buruk padamu, dan jangan sampai ia mencium darimu selain bau harum.
• Kelima dan keenam : perhatikanlah waktu tidur dan makannya, karena lapar yang sangat dan kurang tidur dapat membuatnya terbakar amarah.
• Ketujuh dan kedelapan: jagalah hartanya dan peliharalah keluarganya. Menjaga harta dengan baik adalah dengan membuat anggaran secara baik, dan inti urusan keluarga adalah baik dalam mengatur.
• Kesembilan dan kesepuluh : Janganlah mendurhakai perintahnya dan jangan pula membuka rahasianya. Sebab, jika engkau mendurhakai perintahnya, engkau akan melukai hatinya, dan jika engkau membuka rahasianya, engkau tidak akan merasa aman dari pengkhianatannya.
• Selanjutnya, perhatikan baik-baik, jangan sampai engkau menampakkan kegembiraan di hadapannya ketika ia sedang bersedih, dan jangan sampai menampakkan kesedihan ketika ia bergembira.”
Demikianlah wasiat Ummu Iyas, seorang ibu yang sangat menginginkan terciptanya sakinah, mawaddah wa rahmah dalam rumah tangga putrinya, guna menggapai kebahagiaan hakiki, dunia dan akhirat.
Ummu iyas tahu betul bahwa kebahagiaan pasangan suami istri hanya dapat terwujud jika ada kerjasama dan saling pengertian di antara keduanya. Kebahagiaan pasangan suami istri terletak pada bagaimana pasangan itu mengelola rumah tangganya dengan baik, saling menghormati, saling memuliakan, dan tidak saling menghinakan.
DOA QUNUT
DOA QUNUT
اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
Allahummahdiini fiiman hadait, wa'aafini fiiman 'afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a'thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho 'alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata'aalait. (Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi)” (HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
اللَّهُمَّ اهْدِنِى فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِى فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِى فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِى شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ
Allahummahdiini fiiman hadait, wa'aafini fiiman 'afait, watawallanii fiiman tawallait, wabaarik lii fiima a'thait, waqinii syarrama qadlait, fainnaka taqdhi walaa yuqdho 'alaik, wainnahu laa yadzillu man waalait, tabaarakta rabbana wata'aalait. (Ya Allah, berilah aku petunjuk di antara orang-orang yang Engkau beri petunjuk, dan berilah aku keselamatan di antara orang-orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku di antara orang-orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan kepadaku, lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau Yang memutuskan dan tidak diputuskan kepadaku, sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau jaga dan Engkau tolong. Engkau Maha Suci dan Maha Tinggi)” (HR. Abu Daud no. 1425, An Nasai no. 1745, At Tirmidzi no. 464. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
MEMBANGUN RUMAH TANGGA YANG QUR'ANI
MEMBANGUN RUMAH TANGGA YANG QUR'ANI
BAB 1 PENGERTIAN DAN CIRI KELUARGA QUR’ANI
Dalam bagian akhir surat Alfurqon, ayat 74, “.. robbanaa hablanaa min azwaajina wadzurriyyaatina qurrota a’yun waja’alnaa lilmuttaqiiyna imaama”. Yang artinya kurang lebih,”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai qurrota’ayun dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.”
Dari ayat ini, bahwa dalam keluarga qur’ani itu ada cita-cita mensholehkan keturunan. Bukan hanya anak saja, bahkan sampai keturunan keberapa pun, sudah menjadi cita-cita keluarga qur’ani.
Bahkan, sampai anak yang akan datang 100 tahun mendatang pun, sudah menjadi pemikiran orang-orang beriman. Seperti do’anya Nabi Ibrahim:
“Robbana wab’ats fiyhim rosuulamminhum yatlu ‘alayhim aayaatika wayu ‘allimuhumul kitaaba wal hikmata wayuzakkiyhim innaka antal ‘aziyyzul hakiim”, yang artinya “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”.
Hasil do’a Nabi Ibrahim itu baru 1 abad kemudian dikabulkan Alloh dengan diutusnya Rasulullah Saw.
Itulah yang dimaksud dengan “…wadzurriyyaatina..” pada akhir surat Alfurqon ayat tadi, adalah semua yang menjadi garis keturunan kita. Juga di do’a Nabi Ibrahim di Q.S. Ibrahim: 40, “Robbij ‘alniy muqiiymassholaati wamin dzurriyyaati…”.
Seorang nabi Ibrahim yang tauhidnya kuat luar biasa berdo’anya kepada Alloh ingin agar dirinya dan keturunannya menjadi orang yang “muqiiymassholaati” (mendirikan sholat). Kalau Nabi Ibrahim aja yang tauhidnya kuat ingin supaya seperti itu, kita yang tauhidnya tak sekuat Nabi ibrahim, seharusnya lebih utama lagi agar diri kita dan keturunan kita “muqiiymassholaati” (mendirikan sholat).
Sebab jika posisi “muqiiymassholaati” kita dapatkan, apa saja yang gak kita dapatkan di dunia ini, ga akan rugi yang hakiki. Sehinga, jangan pernah terpikir menjadi muqimassholati itu hal yang biasa karena sekelas Nabi ibrahim pun, sangat mendamba-dambakan hal itu.
“dzurriyyah” itu adalah kata yang sangat umum. Karena kata cucu dalam bahasa arab, jika cucu yang dihasilkan oleh anak laki-laki =asbat. Kalau cucu yang dihasilkan oleh anak perempuan = ahfad. Tapi kalau cucu yang sampai sekian banyak keturunan kita = dzurriyyah. Nah, yang kita minta kepada Alloh adalah keturunan yang sampai ketika telah di liang lahat pun supaya mereka keturunan itu mendapat hidayah Alloh.
Sampai saking Ibrahim mendamba-dambakan “…muqimassholati..” itu , doanya diakhiri dengan “…robbana wataqobbal du ‘a.”.. karena “…muqimassholati..”itu strategis dalam kehidupan akhirat dan dunia.
Karena amal-amal akhlaq pun timbul merupakan dampak dari “…muqimassholati..”. Orang yang tertarik sholat sunnah pasti karena dampak “…muqimassholati..”. Orang yang berakhlak baik pastilah karena dampak “…muqimassholati..”. Oleh sebab itu, jadikan “…muqimassholati..”sebagai kebutuhan mendasar diri kita.
Kesadaran berdo’a untuk keluarga dijadikan Allah sebagai bukti keimanan yang semakin baik. Allah menggambarkan di bagian akhir Q.S. Alfurqon sebagai ‘ibadurrahman.
Pada bagian akhir surat alfurqon itu, disebutkan hamba-hamba Alloh yang langsung tersibghoh dengan ajaran-ajaran Allah, yang terwarnai dengan akhlaknya, takutnya dengan api neraka, sifatnya yang perhatian dengan masalah ekonominya, perhatian terhadap keluarganya, tidak hanya keluarga dia tapi hingga keluarganya yang akan datang hingga sekian tahun mendatang.
Keturunan itu menjadi qurrota a’yun ( menyejukkan mata) bahkan keinginannya, keturunan ga hanya menjadi orang yang bertaqwa, tapi jadi pemimpinnya orang yang bertaqwa. Berarti harus ada ketaqwaan yang luar biasa dan istimewa sehingga layak sebagai pemimpin orang-orang yang bertaqwa.
Saat berdo’a ini, kita harus bisa menghilangkan kondisi riil diri kita (kondisi lingkungan dan diri) apalagi do’a ini adalah do’a yang diajarkan langsung oleh Alloh dan yang memanjatkan do’a ini adalah orang-orang yang istimewa di sisi Alloh.
Jadi, modal utama pertama bagi rumah tangga Qur’ani adalah : Addu’a (Do’a).
-> dengan do’a itu, kita punya keyakinan/pengakuan yang utuh bahwa Allah itu maha kuasa mengatur kehidupan kita, istri dan anak.
-> bagi yang sudah punya anak, kita rasakan pengaruh game komputer itu begitu luar biasanya pada anak. Gimana bisa cinta Alqur’an klo gitu. Tapi..sudah.. kembalikan pada Allah sambil kita terus berusaha.
Do’a itu diletakkan Alloh sebagai silahul mu’min (senjata orang2 mukmin). Makna senjata ini aslinya adalah bahwa kita ga berdaya menghadapi dunia ini sehingga kita butuh do’a.
Dari keluarga qur’ani itu, ciri utamanya adalah mendirikan sholat. Tentunya dalam pelaksanaannya akan terus berkembang sesuai perkembangan keimanan. Manusia akan beramal sesuai perkembangan keimanannya. Kalau sholat 5 waktu terus, maka akan meningkat menjadi juga sholat sunnat. Lalu kan meningkat lagi, solat 5 waktunya akan agak lama’an. Itu kalau imannya meningkat semakin kuat, ini akan membuat orang semakin enak dirinya bersama Allah Swt.
Rumah tangga qur’ani itu fokus utamanya adalah gimana agar satu sama lain saling tolong menolong dalam ketaatan kepada Alloh Swt. Karena ada rumah tangga yang fokus utamanya nyari duiit aja. Ada juga rumah tangga yang fokus utamanya memenuhi hobi saja.
Terkait hal ini, sehingga ada hadist = Rosulullah saw bersabda : “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam, kemudian mengerjakan sholat dan membangunkan istrinya (agar ikut mengerjakan sholat malam/sunnah tahajud), lantas jika istrinya enggan, maka ia memerciki wajahnya dengan air. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam kemudian mengerjakan sholat malam dan membangunkan suaminya (agar mengerjakan sholat malam), lantas jika suaminya enggan, maka ia memerciki wajahnya dengan air.” (HR. Abu Dawud (1308) dan Ibnu Majah (1335)).
Insya Allah kalau baik suami dan istri dua-duanya memahami hadist ini, maka percikan itu adalah percikan cinta. Soalnya ada kasus saat istrinya dipercikin air, malah jadi ribut, karena istrinya menganggap suaminya nyari gara-gara mengganggu ketenangan tidur atau melanggar HAM. Sehingga pastikan istri antum juga pernah membaca hadist ini. Harus ada keseimbangan, suami maupun istri harus tahu hadist ini.
Ini adalah bukti bahwa fokus keduanya adalah amal sholeh. Ini adalah kriteria paling MINIMALIS untuk keluarga Qur’ani.
KRITERIA KEDUA dari keluarga qur’ani adalah punya fokus utama interaksi dengan Qur’an itu sendiri. Semua anggota keluarga punya interaksinya sendiri yang langsung terhadap Alqur’an ini.
“Innalladzi na yatluuna kitaaballoohi wa aqoomusshoolata wa anfaquu mimma rozaqnaahum sirrow wa’ala niyatan yarjuwna tijaarotanlantabuur” yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,” [Q.S. Fathir:29].
Ini kalau dirintis akan menumbuhkan kesadaran. Kalau tilawah qur’an terus dilakukan, akhirnya akan tumbuh rasa belum puas sehingga tumbuh kesadaran untuk lebih intens
Karena ga’ akan hafal betul kalau pengulangannya kurang dari 350 kali. Ada orang yang merasa cepat lupa ketika menghafal, sebenarnya sederhana, bacanya kurang dari 350 kali. Seperti surat al ikhlas, ga bakal lupa insya Alloh, karena pembacaannya sudah lebih dari 350 kali. Juga alamtarokayfafa’ala, insya Alloh ga bakal lupa karena pengulangannya sudah lebih dari 350 kali. Kalaupun lupa, paling Cuma sekali dan akan ingat terus insya Alloh.
Bayangkan kalau hal itu kita lakukan untuk Albaqoroh, Ali imron. Insya Alloh surah-surah itu akan senasib dengan surat al-ikhlas yang insya Alloh ga dimuroja’ah ga akan lupa.
Jadi bisa dibayangkan pahala dari menghafal, sebab orang akan baca ayat itu dalam bilangan/jumlah yang luar biasa.
Semakin meningkat lag interaksinya, hafalan itu akan jadi tadabbur yang baik. Semakin meningkat lagi, akan jadi kemampuan memahami tafsirnya.
YANG KE-TIGA, selain ia menjadikan qur’an sebagai perhatian utama, ia juga terjun memperjuangkan qur’an ini dalam kehidupannya.
Kalau yang ke-1 dan ke-2 sudah dilakukannya, ia belum puas kalau rumah tangga qur’ani cuma keluarga dia saja. Rumah tangga lain juga kalau bisa merasakan kenikmatan Alqur’an ini. Atau Rumah tangga qur’ani yang berfungsi bila semua rumah tangga ini aktif mengajak ummat kepada alqur’an.
Betapa resikonya amat banyak ketika mengajak yang lain kepada Alqur’an ini. Ada resiko ga dihargai orang lain, boro-boro orang mau terima kasih, malah bisa orang salah faham. Tapi kartena ia sudah kuat prinsipnya: melakukan perbuatan ini buka untuk menerima balasan dan walau syukuro/ terima kasih dari orang lain.
Kebahagiaan keluarga itu adalah ketika orang lain yang ga sholat bisa sholat, yang ga bisa baca qur’an jadi bisa baca qur’an. Sebab kebaikan ga akan sempurna kalo belum ada kesolehan kolektif. Di Al a’rof, “walau aamana ahlul quroo aamanu wattaqow…” . Dari ayat ini, penduduk suatu negeri, perlunya keimanan dan ketakwaan yang bersama, baru akan “lafatahnaa ‘alaykum barokaa…”
Yang ke-3 ini, keluarga yang senantiasa berfikir bagaimana orang lain bisa soleh. Siap dalam model kehidupan yang bagaimana saja, itu ga mempengaruhi dirinya, yang penting ia selalu merasakan hidayah pada orang lain yang belum dapat hidayah. Maka orang seperti ini, aslinya adalah orang yang paling kaya.
Dalam Hadist, “….”, (yang maknanya bahwa) 1 orang yang dapat hidayah karena peranmu/ do’amu, kamu kan peroleh yang lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Tinggal pilih yang mana dari 3 ini. Kalau yang 1 mau dirintis, insya Alloh ia akan naik ke tingkat yang 2, dan kalau dirintis lagi, ia akan naik ke tingkat 3.
Yang ke-3 ini, seperti keluarga para Sahabat Nabi. Contoh: keluarga Abu Thalhah yang istrinya Ummu Sulaim. Kesabarannya ketika Abu Thalhah pulang, ia bilang bahwa titipan Alloh telah diambil. Ia bersabar saja. Karena kesabaran itu, Alloh ganti dengan 10 anak lain yang kulluhum yaqroo’unal qur’an. Yang sepuluh-sepuluhnya bisa melaksanakan qur’an senganbaik.
Itulah semua (penjelasan) tentang pengertian keluarga qur’an. Selanjutnya kita akan bahas tentang keutamaan keluarga Alqur’an.
BAB 2. KEUTAMAAN RUMAH TANGGA QUR’ANI
Pertama, agar benar-benar kehidupan yang sementara ini, alfauzu fiddunya, kalau bisa diisi dengan qur’an, kehidupan yang sebentar ini jadi bernilai tinggi di sisi Alloh.
Ringkasnya, Alqur’an mendudukkan rumah tangga dalam kehidupan yang positif dan negatif (potensi posifif dan negatif). Yang positig, kita sudah hampir semua hafal di qur’an Arrum:21. Yaitu: litaskunuu ilayha, waja’ala mawaddakum, dan warohmah.
Tetapi potensi dalam diri kita bukan hanya itu saja. Kita juga punya potensi marah-marahan, kesel keselan, bosen-bosenan, karena diri kita itu di Q.S.Attaghobun “inna min azwaajikum wa awlaadikum ‘aduww…”. Rumah tangga itu peperangan. Di ayat ini, dikatakan bahwa istri dan anak sebagai musuh. Jadi, jangan dikira bahwa keluarga itu positif semua. Karena di dalamnya ada nuansa permusuhan yang Allah sebut dia yat lain sebagai fitnah.
Intinya, ada kenikmatan, ada ujian. Manusia ga akan lulus ujian kecuali kehidupan ini dioptimalkan amal sholehnya.
Kalau di keluarga itu dipadatkan 3 hal kriteria ini (melaksanakan perintah Alloh, punya fokus interaksi dengan Alqur’an dan menda’wahkan qur’an), maka peran setan dan peran hawa nafsu akan kecil. Sehingga ntar yang dominan adalah : Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah.
Jika pada diri itu tidak dikuatkan 3 hal ini (melaksanakan perintah Alloh, punya fokus interaksi dengan Alqur’an dan menda’wahkan qur’an), maka yang (Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah) timbul hanya dari sisi kemanusiaan saja. Karena yang namanya manusia, dengan sendirinya sudah diberi Allah benih litaskunu, mawaddah dan warohmah dari sisi kemanusiaannya,( punya rasa cinta, kasih sayang, dsb.).
Tapi, benih ini mudah hilang dan dominan hawa nafsu dan setan. Dan jika dah dominan ini, maka ga akan berlangsung lama Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah-nya.
Semua orang merasakan nikmatnya sesuatu kalau sedikit. Seperti eskrim itu enak kalau sedikit, kalau seember disuruh habiskan sekali ga enak. Kalau mengandalkan adanya (Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah) hanya dari sisi kemanusiaan saja, wajar kalau 1 tahun nikah kemudian cerai, dsb.
Sebaliknya kalau keluarga it dibangun dengan ketaatan kepada Alloh, maka rumah tangga itu dibangun oleh 2 hal:
1. oleh benih kemanusiaannya
2. hubungan dengan Alloh yang akan menetralisir hawa nafsu dan setan sehingga semua konflik akan terselesaikan/terlupakan.
Karena Alloh punya (Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah) yang tidak habis-habisnya. Allah itu al ghofuurul waduud. (Waduud=banyak cintanya).
Insya Alloh kalau kita akses Alloh sekuat-kuatnya, maka sifat Allah akan mewarnai rumah tangga. Insya Alloh akan menjadi rumah tangga yang kokok dan kuat dan bisa merasakan sebagian kenikmatan surga di dunia.
Bagaimana dengan kehidupan akhiratnya? Insya Alloh, Alloh akan memberikan keistimewaan pada keluarga yang senantiasa hidup dengan Alqur’an. Diantaranya: ALLAH AKAN MEMBERI KEUTUHAN KELUARGA ITU HINGGA AKHIRAT NANTI.
Sebagai contoh, kalau saat lebaran, akan kurang terasa kalau salah satu dari suami atau istri ga kumpul bareng., misalnya suami/istrinya telah lebih dahulu dipanggil Alloh. Ini kumpul yang paling cuman sehari, paling juga Cuma sampe dzuhur ied itu. Paling terasa kalau berkumpul/menyatu dengan keluarga. Padahal baru kenikmatan lebaran saja.
Bisa dibayangkan ga kalau di surga itu sendirian, Suami/ istri di neraka dan anak di neraka pula? Nikmat ya nikmat, tapi kalo ga ngumpul lagi, ga utuh kenikmatannya. Makanya do’anya para malaikat pada keluarga (yang qur’ani-pen) ini adalah agar rumah tangga itu seperti yang disebutkan di Q.S. 40:7-8. Supaya terus ngumpul sampe akhirat. Kalo dimasukin surga, masukin rame-rame aja sekeluarganya.
Ketika ada perhatian khusus pada Alqur’an, qur’an akan berfungsi sebagai syafaat. Arti syafaat adalah punya hak untuk bisa menolong orang lain. Walaupun mungkin bobotnya ga sama. Misalnya: Bapaknya rajin baca qur’an walau ga sampe hafal, tapi anaknya sampe hafal. Maka ini beda bobot saja. Kalau Bapaknya masuk neraka, insya Alloh masih bisa jadi syafaat. Jadi ada syaratnya agar qur’an itu bisa jadi syafaat, yaitu harus ada kesamaan dalam kesolehan atau semua unsur daam keluarga punya kesolihan. Kalau ada beda bobot, insya Alloh bisa dikumpulkan oleh malaikat. Contoh lagi: kalau bapaknya rajin sholat lima waktu, sedangkan anaknya rajin sholat lima waktu ditambah getol qiyamullail, maka insya Alloh masih bisa terkumpul.
(nb: di sesi tanya jawab, ada seorang akhwat yang bertanya via tulisan, bahwa ia memiliki bapak yang jauh dari Alloh. Ia bertanya terkait tema ini? Dijawab Ustadz Abdul Aziz, bahwa prinsipnya: segala sesuatu itu (yang baik) bila ga bisa diraih sempurna, maka jangan ditinggalkan semuanya. Kalaupun dah mentok semua upaya, dengan do’a ga akan mentok. Misalnya: hari senin nanti kita shaum dan berdo’a, supaya shaum kita itu jadi wasilah untuk do’a itu. Tiap orang punya ciri/model pengajakan yang berbeda-beda, sesuai “bahasa”nya masing-masing. Insya Alloh ajakan yang terus-menerus)
BAB 3 LANGKAH-LANGKAH MENUJU RUMAH TANGGA QUR’ANI
Apa yang harus kita lakukan agar Allah menakdirkan kita, keluarga kita menjadi keluarga Qur’ani?
LANGKAH PERTAMA: BANGUNLAH KEINGINAN
Sekedar keinginan, ini pun butuh pertolongan dari Alloh.
Karena segala sesuatu itu tumbuh dari keinginan. Akan tumbuh keinginan kalau kita pelajari dan gali rumah tangga qur’ani ini. Tapi kalau keinginannya belum ada, berarti harus belajar lagi, harus baca lagi kitab-kitab referensi terkait hal ini.
Kalau Alloh telah beri keinginan dalam diri kita, maka insya Alloh akan termotivasi ke langkah berikutnya: do’a.
LANGKAH KEDUA: DO’A
Do’a yang dilakukan akan sesuai dengan bobot keinginan itu sendiri. Itu rahasianya kalau orang berdoa untuk diselamatkan dari api neraka maka Allah memberi apresiasi, neraka pun akan ikut berdo’a agar manusia itu dijauhkan dari dia.
Tapi kenyataannya, apa dah benar kita tiap hari minta ke Alloh supaya diselamatkan dari api neraka? Belum tentu. Tergantung keimanan kita, bergantung rasa butuh diri kita.
Dalam sebuah hadist: ketika Allah mendengar hamba-hambanya minta diselamatkan dari neraka, Allah tanya ke malaikat (walaupun Allah Maha Tahu): mereka itu minta diselamatkan dari neraka itu saking butuhnya apa pernah mereka liat neraka itu? Jawab malaikat: itu karena keimanan mereka. Belum liat aja dah seserius itu (ka annaha ro’yal ‘ain = seolah melihat neraka di mata kepala sendiri), apalagi kalau mereka dah liat, akan lebbbih lagi doanya.
Sejauh mana keinginan kita untuk menjadi keluarga qur’ani itu terlihat dari do’a kita.
Kalau ternyata apa yang kita minta pada Alloh itu (keluarga qur’ani) kurang terwujud, maka Allah akan catat kita sebagaimana apa yang kita minta, bahwa kita telah melaksanakan rumah tangga qur’ani dengan sukses. Sebagai contoh:rumah tangga nabi Nuh, dinilai sukses oleh Alloh dalam menunaikan risalah Allah, meski anak dan istrinya tetap dalam keadaan kafir. (Allah ga pernah menyalahkan nabi Nuh bahwa ia termasuk orang yang ga sukses. –int pen).
Karena Alqur’an itu adalah kitab ilmu, ia ga akan terwariska secara otomatis. Jadi harus:
PERTAMA, HARUS DIPELAJARI
Apa sepekan sekali, atau tiap hari sekali. Hadist-hadist tentang penghargaan orang yang belajar qur’an diriwayatkan dengan shahih dalam berbagai kitab hadist. Seperti : 1 ayat saja yang kita pelajari dar qur’an lebih baik dari onta kualitas bagus zaman itu.
KEDUA. KETELAH DIPELAJARI HARUS DITERAPKAN SAMPAI MENJADI QUDWAH (TELADAN)
Menjadi contoh bagi orang lain. Bisa jadi anak/ istri/suami yang jadi qudwah. Siapa yang lebih dahulu menjadi qudwah, maka ia yang lebih mulia di hadapan Alloh. Misalnya: ada seorang yang menyampaikan pada saya bahwa ia mulai dekat dengan Allah dan qur’an ketika ia sering masuk ke kamar anaknya, dan ia temui di kamar anaknya itu bagitu banyak buku agama. Ia baca dan mulai dari situlah timbul hidayah untuk lebih dekat dengan Alloh.
Karena mukmin itu “ almukminu mir’atul mi’min”. jadi, anak pun ternyata bisa jadi qudwah bagi bapaknya.
KETIGA, SETELAH JADI QUDWAH, DIBENTENGI DENGAN ATS-SABAT (KETEGUHAN)
Agar generasi berikutnya benar-benar bisa teguh/tsabat/ istiqomah, maka kita diajarkan do’a-do’a agar tsabat. Apakah itu “ya muqollibal quluub, tsabbit quluubina ‘ala diinik”, dan do’a lainnya.
Untuk bisa istiqomah, selain dengan yusaha kita, juga dibarengi dengan do’a yang intensif. Sebagaimana intensifnya Rasulullah berdo’a untuk keluarganya.
Inilah jama’ah rohimakumullah.. Aquwlu qouli hadza wastaghfirulloh…. Wassalamu’alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh.
Wallahu’alam bishowab.
BAB 1 PENGERTIAN DAN CIRI KELUARGA QUR’ANI
Dalam bagian akhir surat Alfurqon, ayat 74, “.. robbanaa hablanaa min azwaajina wadzurriyyaatina qurrota a’yun waja’alnaa lilmuttaqiiyna imaama”. Yang artinya kurang lebih,”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai qurrota’ayun dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.”
Dari ayat ini, bahwa dalam keluarga qur’ani itu ada cita-cita mensholehkan keturunan. Bukan hanya anak saja, bahkan sampai keturunan keberapa pun, sudah menjadi cita-cita keluarga qur’ani.
Bahkan, sampai anak yang akan datang 100 tahun mendatang pun, sudah menjadi pemikiran orang-orang beriman. Seperti do’anya Nabi Ibrahim:
“Robbana wab’ats fiyhim rosuulamminhum yatlu ‘alayhim aayaatika wayu ‘allimuhumul kitaaba wal hikmata wayuzakkiyhim innaka antal ‘aziyyzul hakiim”, yang artinya “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”.
Hasil do’a Nabi Ibrahim itu baru 1 abad kemudian dikabulkan Alloh dengan diutusnya Rasulullah Saw.
Itulah yang dimaksud dengan “…wadzurriyyaatina..” pada akhir surat Alfurqon ayat tadi, adalah semua yang menjadi garis keturunan kita. Juga di do’a Nabi Ibrahim di Q.S. Ibrahim: 40, “Robbij ‘alniy muqiiymassholaati wamin dzurriyyaati…”.
Seorang nabi Ibrahim yang tauhidnya kuat luar biasa berdo’anya kepada Alloh ingin agar dirinya dan keturunannya menjadi orang yang “muqiiymassholaati” (mendirikan sholat). Kalau Nabi Ibrahim aja yang tauhidnya kuat ingin supaya seperti itu, kita yang tauhidnya tak sekuat Nabi ibrahim, seharusnya lebih utama lagi agar diri kita dan keturunan kita “muqiiymassholaati” (mendirikan sholat).
Sebab jika posisi “muqiiymassholaati” kita dapatkan, apa saja yang gak kita dapatkan di dunia ini, ga akan rugi yang hakiki. Sehinga, jangan pernah terpikir menjadi muqimassholati itu hal yang biasa karena sekelas Nabi ibrahim pun, sangat mendamba-dambakan hal itu.
“dzurriyyah” itu adalah kata yang sangat umum. Karena kata cucu dalam bahasa arab, jika cucu yang dihasilkan oleh anak laki-laki =asbat. Kalau cucu yang dihasilkan oleh anak perempuan = ahfad. Tapi kalau cucu yang sampai sekian banyak keturunan kita = dzurriyyah. Nah, yang kita minta kepada Alloh adalah keturunan yang sampai ketika telah di liang lahat pun supaya mereka keturunan itu mendapat hidayah Alloh.
Sampai saking Ibrahim mendamba-dambakan “…muqimassholati..” itu , doanya diakhiri dengan “…robbana wataqobbal du ‘a.”.. karena “…muqimassholati..”itu strategis dalam kehidupan akhirat dan dunia.
Karena amal-amal akhlaq pun timbul merupakan dampak dari “…muqimassholati..”. Orang yang tertarik sholat sunnah pasti karena dampak “…muqimassholati..”. Orang yang berakhlak baik pastilah karena dampak “…muqimassholati..”. Oleh sebab itu, jadikan “…muqimassholati..”sebagai kebutuhan mendasar diri kita.
Kesadaran berdo’a untuk keluarga dijadikan Allah sebagai bukti keimanan yang semakin baik. Allah menggambarkan di bagian akhir Q.S. Alfurqon sebagai ‘ibadurrahman.
Pada bagian akhir surat alfurqon itu, disebutkan hamba-hamba Alloh yang langsung tersibghoh dengan ajaran-ajaran Allah, yang terwarnai dengan akhlaknya, takutnya dengan api neraka, sifatnya yang perhatian dengan masalah ekonominya, perhatian terhadap keluarganya, tidak hanya keluarga dia tapi hingga keluarganya yang akan datang hingga sekian tahun mendatang.
Keturunan itu menjadi qurrota a’yun ( menyejukkan mata) bahkan keinginannya, keturunan ga hanya menjadi orang yang bertaqwa, tapi jadi pemimpinnya orang yang bertaqwa. Berarti harus ada ketaqwaan yang luar biasa dan istimewa sehingga layak sebagai pemimpin orang-orang yang bertaqwa.
Saat berdo’a ini, kita harus bisa menghilangkan kondisi riil diri kita (kondisi lingkungan dan diri) apalagi do’a ini adalah do’a yang diajarkan langsung oleh Alloh dan yang memanjatkan do’a ini adalah orang-orang yang istimewa di sisi Alloh.
Jadi, modal utama pertama bagi rumah tangga Qur’ani adalah : Addu’a (Do’a).
-> dengan do’a itu, kita punya keyakinan/pengakuan yang utuh bahwa Allah itu maha kuasa mengatur kehidupan kita, istri dan anak.
-> bagi yang sudah punya anak, kita rasakan pengaruh game komputer itu begitu luar biasanya pada anak. Gimana bisa cinta Alqur’an klo gitu. Tapi..sudah.. kembalikan pada Allah sambil kita terus berusaha.
Do’a itu diletakkan Alloh sebagai silahul mu’min (senjata orang2 mukmin). Makna senjata ini aslinya adalah bahwa kita ga berdaya menghadapi dunia ini sehingga kita butuh do’a.
Dari keluarga qur’ani itu, ciri utamanya adalah mendirikan sholat. Tentunya dalam pelaksanaannya akan terus berkembang sesuai perkembangan keimanan. Manusia akan beramal sesuai perkembangan keimanannya. Kalau sholat 5 waktu terus, maka akan meningkat menjadi juga sholat sunnat. Lalu kan meningkat lagi, solat 5 waktunya akan agak lama’an. Itu kalau imannya meningkat semakin kuat, ini akan membuat orang semakin enak dirinya bersama Allah Swt.
Rumah tangga qur’ani itu fokus utamanya adalah gimana agar satu sama lain saling tolong menolong dalam ketaatan kepada Alloh Swt. Karena ada rumah tangga yang fokus utamanya nyari duiit aja. Ada juga rumah tangga yang fokus utamanya memenuhi hobi saja.
Terkait hal ini, sehingga ada hadist = Rosulullah saw bersabda : “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam, kemudian mengerjakan sholat dan membangunkan istrinya (agar ikut mengerjakan sholat malam/sunnah tahajud), lantas jika istrinya enggan, maka ia memerciki wajahnya dengan air. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam kemudian mengerjakan sholat malam dan membangunkan suaminya (agar mengerjakan sholat malam), lantas jika suaminya enggan, maka ia memerciki wajahnya dengan air.” (HR. Abu Dawud (1308) dan Ibnu Majah (1335)).
Insya Allah kalau baik suami dan istri dua-duanya memahami hadist ini, maka percikan itu adalah percikan cinta. Soalnya ada kasus saat istrinya dipercikin air, malah jadi ribut, karena istrinya menganggap suaminya nyari gara-gara mengganggu ketenangan tidur atau melanggar HAM. Sehingga pastikan istri antum juga pernah membaca hadist ini. Harus ada keseimbangan, suami maupun istri harus tahu hadist ini.
Ini adalah bukti bahwa fokus keduanya adalah amal sholeh. Ini adalah kriteria paling MINIMALIS untuk keluarga Qur’ani.
KRITERIA KEDUA dari keluarga qur’ani adalah punya fokus utama interaksi dengan Qur’an itu sendiri. Semua anggota keluarga punya interaksinya sendiri yang langsung terhadap Alqur’an ini.
“Innalladzi na yatluuna kitaaballoohi wa aqoomusshoolata wa anfaquu mimma rozaqnaahum sirrow wa’ala niyatan yarjuwna tijaarotanlantabuur” yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,” [Q.S. Fathir:29].
Ini kalau dirintis akan menumbuhkan kesadaran. Kalau tilawah qur’an terus dilakukan, akhirnya akan tumbuh rasa belum puas sehingga tumbuh kesadaran untuk lebih intens
Karena ga’ akan hafal betul kalau pengulangannya kurang dari 350 kali. Ada orang yang merasa cepat lupa ketika menghafal, sebenarnya sederhana, bacanya kurang dari 350 kali. Seperti surat al ikhlas, ga bakal lupa insya Alloh, karena pembacaannya sudah lebih dari 350 kali. Juga alamtarokayfafa’ala, insya Alloh ga bakal lupa karena pengulangannya sudah lebih dari 350 kali. Kalaupun lupa, paling Cuma sekali dan akan ingat terus insya Alloh.
Bayangkan kalau hal itu kita lakukan untuk Albaqoroh, Ali imron. Insya Alloh surah-surah itu akan senasib dengan surat al-ikhlas yang insya Alloh ga dimuroja’ah ga akan lupa.
Jadi bisa dibayangkan pahala dari menghafal, sebab orang akan baca ayat itu dalam bilangan/jumlah yang luar biasa.
Semakin meningkat lag interaksinya, hafalan itu akan jadi tadabbur yang baik. Semakin meningkat lagi, akan jadi kemampuan memahami tafsirnya.
YANG KE-TIGA, selain ia menjadikan qur’an sebagai perhatian utama, ia juga terjun memperjuangkan qur’an ini dalam kehidupannya.
Kalau yang ke-1 dan ke-2 sudah dilakukannya, ia belum puas kalau rumah tangga qur’ani cuma keluarga dia saja. Rumah tangga lain juga kalau bisa merasakan kenikmatan Alqur’an ini. Atau Rumah tangga qur’ani yang berfungsi bila semua rumah tangga ini aktif mengajak ummat kepada alqur’an.
Betapa resikonya amat banyak ketika mengajak yang lain kepada Alqur’an ini. Ada resiko ga dihargai orang lain, boro-boro orang mau terima kasih, malah bisa orang salah faham. Tapi kartena ia sudah kuat prinsipnya: melakukan perbuatan ini buka untuk menerima balasan dan walau syukuro/ terima kasih dari orang lain.
Kebahagiaan keluarga itu adalah ketika orang lain yang ga sholat bisa sholat, yang ga bisa baca qur’an jadi bisa baca qur’an. Sebab kebaikan ga akan sempurna kalo belum ada kesolehan kolektif. Di Al a’rof, “walau aamana ahlul quroo aamanu wattaqow…” . Dari ayat ini, penduduk suatu negeri, perlunya keimanan dan ketakwaan yang bersama, baru akan “lafatahnaa ‘alaykum barokaa…”
Yang ke-3 ini, keluarga yang senantiasa berfikir bagaimana orang lain bisa soleh. Siap dalam model kehidupan yang bagaimana saja, itu ga mempengaruhi dirinya, yang penting ia selalu merasakan hidayah pada orang lain yang belum dapat hidayah. Maka orang seperti ini, aslinya adalah orang yang paling kaya.
Dalam Hadist, “….”, (yang maknanya bahwa) 1 orang yang dapat hidayah karena peranmu/ do’amu, kamu kan peroleh yang lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Tinggal pilih yang mana dari 3 ini. Kalau yang 1 mau dirintis, insya Alloh ia akan naik ke tingkat yang 2, dan kalau dirintis lagi, ia akan naik ke tingkat 3.
Yang ke-3 ini, seperti keluarga para Sahabat Nabi. Contoh: keluarga Abu Thalhah yang istrinya Ummu Sulaim. Kesabarannya ketika Abu Thalhah pulang, ia bilang bahwa titipan Alloh telah diambil. Ia bersabar saja. Karena kesabaran itu, Alloh ganti dengan 10 anak lain yang kulluhum yaqroo’unal qur’an. Yang sepuluh-sepuluhnya bisa melaksanakan qur’an senganbaik.
Itulah semua (penjelasan) tentang pengertian keluarga qur’an. Selanjutnya kita akan bahas tentang keutamaan keluarga Alqur’an.
BAB 2. KEUTAMAAN RUMAH TANGGA QUR’ANI
Pertama, agar benar-benar kehidupan yang sementara ini, alfauzu fiddunya, kalau bisa diisi dengan qur’an, kehidupan yang sebentar ini jadi bernilai tinggi di sisi Alloh.
Ringkasnya, Alqur’an mendudukkan rumah tangga dalam kehidupan yang positif dan negatif (potensi posifif dan negatif). Yang positig, kita sudah hampir semua hafal di qur’an Arrum:21. Yaitu: litaskunuu ilayha, waja’ala mawaddakum, dan warohmah.
Tetapi potensi dalam diri kita bukan hanya itu saja. Kita juga punya potensi marah-marahan, kesel keselan, bosen-bosenan, karena diri kita itu di Q.S.Attaghobun “inna min azwaajikum wa awlaadikum ‘aduww…”. Rumah tangga itu peperangan. Di ayat ini, dikatakan bahwa istri dan anak sebagai musuh. Jadi, jangan dikira bahwa keluarga itu positif semua. Karena di dalamnya ada nuansa permusuhan yang Allah sebut dia yat lain sebagai fitnah.
Intinya, ada kenikmatan, ada ujian. Manusia ga akan lulus ujian kecuali kehidupan ini dioptimalkan amal sholehnya.
Kalau di keluarga itu dipadatkan 3 hal kriteria ini (melaksanakan perintah Alloh, punya fokus interaksi dengan Alqur’an dan menda’wahkan qur’an), maka peran setan dan peran hawa nafsu akan kecil. Sehingga ntar yang dominan adalah : Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah.
Jika pada diri itu tidak dikuatkan 3 hal ini (melaksanakan perintah Alloh, punya fokus interaksi dengan Alqur’an dan menda’wahkan qur’an), maka yang (Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah) timbul hanya dari sisi kemanusiaan saja. Karena yang namanya manusia, dengan sendirinya sudah diberi Allah benih litaskunu, mawaddah dan warohmah dari sisi kemanusiaannya,( punya rasa cinta, kasih sayang, dsb.).
Tapi, benih ini mudah hilang dan dominan hawa nafsu dan setan. Dan jika dah dominan ini, maka ga akan berlangsung lama Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah-nya.
Semua orang merasakan nikmatnya sesuatu kalau sedikit. Seperti eskrim itu enak kalau sedikit, kalau seember disuruh habiskan sekali ga enak. Kalau mengandalkan adanya (Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah) hanya dari sisi kemanusiaan saja, wajar kalau 1 tahun nikah kemudian cerai, dsb.
Sebaliknya kalau keluarga it dibangun dengan ketaatan kepada Alloh, maka rumah tangga itu dibangun oleh 2 hal:
1. oleh benih kemanusiaannya
2. hubungan dengan Alloh yang akan menetralisir hawa nafsu dan setan sehingga semua konflik akan terselesaikan/terlupakan.
Karena Alloh punya (Litaskunuu ilayha, mawaddah, dan warohmah) yang tidak habis-habisnya. Allah itu al ghofuurul waduud. (Waduud=banyak cintanya).
Insya Alloh kalau kita akses Alloh sekuat-kuatnya, maka sifat Allah akan mewarnai rumah tangga. Insya Alloh akan menjadi rumah tangga yang kokok dan kuat dan bisa merasakan sebagian kenikmatan surga di dunia.
Bagaimana dengan kehidupan akhiratnya? Insya Alloh, Alloh akan memberikan keistimewaan pada keluarga yang senantiasa hidup dengan Alqur’an. Diantaranya: ALLAH AKAN MEMBERI KEUTUHAN KELUARGA ITU HINGGA AKHIRAT NANTI.
Sebagai contoh, kalau saat lebaran, akan kurang terasa kalau salah satu dari suami atau istri ga kumpul bareng., misalnya suami/istrinya telah lebih dahulu dipanggil Alloh. Ini kumpul yang paling cuman sehari, paling juga Cuma sampe dzuhur ied itu. Paling terasa kalau berkumpul/menyatu dengan keluarga. Padahal baru kenikmatan lebaran saja.
Bisa dibayangkan ga kalau di surga itu sendirian, Suami/ istri di neraka dan anak di neraka pula? Nikmat ya nikmat, tapi kalo ga ngumpul lagi, ga utuh kenikmatannya. Makanya do’anya para malaikat pada keluarga (yang qur’ani-pen) ini adalah agar rumah tangga itu seperti yang disebutkan di Q.S. 40:7-8. Supaya terus ngumpul sampe akhirat. Kalo dimasukin surga, masukin rame-rame aja sekeluarganya.
Ketika ada perhatian khusus pada Alqur’an, qur’an akan berfungsi sebagai syafaat. Arti syafaat adalah punya hak untuk bisa menolong orang lain. Walaupun mungkin bobotnya ga sama. Misalnya: Bapaknya rajin baca qur’an walau ga sampe hafal, tapi anaknya sampe hafal. Maka ini beda bobot saja. Kalau Bapaknya masuk neraka, insya Alloh masih bisa jadi syafaat. Jadi ada syaratnya agar qur’an itu bisa jadi syafaat, yaitu harus ada kesamaan dalam kesolehan atau semua unsur daam keluarga punya kesolihan. Kalau ada beda bobot, insya Alloh bisa dikumpulkan oleh malaikat. Contoh lagi: kalau bapaknya rajin sholat lima waktu, sedangkan anaknya rajin sholat lima waktu ditambah getol qiyamullail, maka insya Alloh masih bisa terkumpul.
(nb: di sesi tanya jawab, ada seorang akhwat yang bertanya via tulisan, bahwa ia memiliki bapak yang jauh dari Alloh. Ia bertanya terkait tema ini? Dijawab Ustadz Abdul Aziz, bahwa prinsipnya: segala sesuatu itu (yang baik) bila ga bisa diraih sempurna, maka jangan ditinggalkan semuanya. Kalaupun dah mentok semua upaya, dengan do’a ga akan mentok. Misalnya: hari senin nanti kita shaum dan berdo’a, supaya shaum kita itu jadi wasilah untuk do’a itu. Tiap orang punya ciri/model pengajakan yang berbeda-beda, sesuai “bahasa”nya masing-masing. Insya Alloh ajakan yang terus-menerus)
BAB 3 LANGKAH-LANGKAH MENUJU RUMAH TANGGA QUR’ANI
Apa yang harus kita lakukan agar Allah menakdirkan kita, keluarga kita menjadi keluarga Qur’ani?
LANGKAH PERTAMA: BANGUNLAH KEINGINAN
Sekedar keinginan, ini pun butuh pertolongan dari Alloh.
Karena segala sesuatu itu tumbuh dari keinginan. Akan tumbuh keinginan kalau kita pelajari dan gali rumah tangga qur’ani ini. Tapi kalau keinginannya belum ada, berarti harus belajar lagi, harus baca lagi kitab-kitab referensi terkait hal ini.
Kalau Alloh telah beri keinginan dalam diri kita, maka insya Alloh akan termotivasi ke langkah berikutnya: do’a.
LANGKAH KEDUA: DO’A
Do’a yang dilakukan akan sesuai dengan bobot keinginan itu sendiri. Itu rahasianya kalau orang berdoa untuk diselamatkan dari api neraka maka Allah memberi apresiasi, neraka pun akan ikut berdo’a agar manusia itu dijauhkan dari dia.
Tapi kenyataannya, apa dah benar kita tiap hari minta ke Alloh supaya diselamatkan dari api neraka? Belum tentu. Tergantung keimanan kita, bergantung rasa butuh diri kita.
Dalam sebuah hadist: ketika Allah mendengar hamba-hambanya minta diselamatkan dari neraka, Allah tanya ke malaikat (walaupun Allah Maha Tahu): mereka itu minta diselamatkan dari neraka itu saking butuhnya apa pernah mereka liat neraka itu? Jawab malaikat: itu karena keimanan mereka. Belum liat aja dah seserius itu (ka annaha ro’yal ‘ain = seolah melihat neraka di mata kepala sendiri), apalagi kalau mereka dah liat, akan lebbbih lagi doanya.
Sejauh mana keinginan kita untuk menjadi keluarga qur’ani itu terlihat dari do’a kita.
Kalau ternyata apa yang kita minta pada Alloh itu (keluarga qur’ani) kurang terwujud, maka Allah akan catat kita sebagaimana apa yang kita minta, bahwa kita telah melaksanakan rumah tangga qur’ani dengan sukses. Sebagai contoh:rumah tangga nabi Nuh, dinilai sukses oleh Alloh dalam menunaikan risalah Allah, meski anak dan istrinya tetap dalam keadaan kafir. (Allah ga pernah menyalahkan nabi Nuh bahwa ia termasuk orang yang ga sukses. –int pen).
Karena Alqur’an itu adalah kitab ilmu, ia ga akan terwariska secara otomatis. Jadi harus:
PERTAMA, HARUS DIPELAJARI
Apa sepekan sekali, atau tiap hari sekali. Hadist-hadist tentang penghargaan orang yang belajar qur’an diriwayatkan dengan shahih dalam berbagai kitab hadist. Seperti : 1 ayat saja yang kita pelajari dar qur’an lebih baik dari onta kualitas bagus zaman itu.
KEDUA. KETELAH DIPELAJARI HARUS DITERAPKAN SAMPAI MENJADI QUDWAH (TELADAN)
Menjadi contoh bagi orang lain. Bisa jadi anak/ istri/suami yang jadi qudwah. Siapa yang lebih dahulu menjadi qudwah, maka ia yang lebih mulia di hadapan Alloh. Misalnya: ada seorang yang menyampaikan pada saya bahwa ia mulai dekat dengan Allah dan qur’an ketika ia sering masuk ke kamar anaknya, dan ia temui di kamar anaknya itu bagitu banyak buku agama. Ia baca dan mulai dari situlah timbul hidayah untuk lebih dekat dengan Alloh.
Karena mukmin itu “ almukminu mir’atul mi’min”. jadi, anak pun ternyata bisa jadi qudwah bagi bapaknya.
KETIGA, SETELAH JADI QUDWAH, DIBENTENGI DENGAN ATS-SABAT (KETEGUHAN)
Agar generasi berikutnya benar-benar bisa teguh/tsabat/ istiqomah, maka kita diajarkan do’a-do’a agar tsabat. Apakah itu “ya muqollibal quluub, tsabbit quluubina ‘ala diinik”, dan do’a lainnya.
Untuk bisa istiqomah, selain dengan yusaha kita, juga dibarengi dengan do’a yang intensif. Sebagaimana intensifnya Rasulullah berdo’a untuk keluarganya.
Inilah jama’ah rohimakumullah.. Aquwlu qouli hadza wastaghfirulloh…. Wassalamu’alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh.
Wallahu’alam bishowab.
Langganan:
Postingan (Atom)